Yang Ikut

Tuesday, 15 June 2010

Inferiority complex vs. superiority complex

Reactions: 
Teja meminta aku membincangkan hal inferiority complex dan superiority complex. Sebenarnya aku bukan pandai sangat hal ini, tetapi memandangkan aku diminta menulis, aku menulis juga.

Mengapa complex? Adakah ia sukar - atau payah sangat? Dalam hal psikologi - apabila disebutkan complexs - ia merujuk hal yang sukar dihuraikan. Ia berselirat. Ia hal kecelaruan.

Idea asal konsep ini dibawakan Alfred Adler. Anda yang membuka buku Psikologi Personaliti akan terjumpa nama ini. Ia juga dibincangkan oleh Carl Jung.

Baik inferiority complex - atau superiority complex - kedua-duanya bukanlah hal yang baik. Orang yang inferiority complex - ialah orang yang merasa rendah diri, pesimis dan selalunya negatif. Ia adalah perasaan. Tidak semestinya anak dara yang lalu sambil menunduk di depan kita itu ialah mereka inferiority complex. Inferiority complex ini ada di dalam jiwa kita. Ia perasaan. Ia adalah sikap. Kita menganggap kita sentiasa menjadi orang yang kalah.

Orang Melayu yang melihat orang Inggeris - akan cepat teruja. Cepat merasa orang luar itu hebat. Ia perasaan dalam diri. Ini adalah inferiority complex. Kita berasa kita kerdil sangat. Sedangkan hakikatnya - kita mungkin lebih baik. Sebab itu - orang kita akan berasa lebih selamat dibedah oleh doktor asing - walaupun hakikatnya risiko untuk mati atau peluang untuk sembuh itu sama sahaja.

Inilah perasaan rendah diri. Ia berbeza dengan perlunya hidup merendah diri. Orang yang belajar tinggi, atau ada pangkat besar, tetapi hidup merendah diri - itu bukan inferiority complex.

Banyak penjenayah atau pelaku juvenil dikatakan mempunyai inferiority complex. Apa kaitannya? Sebabnya dengan melakukan hal yang hebat itu - walaupun buruk, mereka merasa ia telah menggantikan perasaan mereka yang dilihat rendah itu. Mereka yang membunuh atau mencuri itu adakalanya merasakan perlakuan itu sangat hebat. Mereka merasa mereka sangat kuat. Sedangkan - itu hanyalah khayalan sahaja.

Semasa aku ditahan di Lokap Pudu - ada seorang anak muda dengan bangganya menceritakan tentang kejayaanya memecah masuk gudang. Katanya ia telah melakukannya berkali-kali. Entah apa hebatnya mencuri, kita tidak tahu. Tetapi itulah perasaanya. Ini perasaan yang asalnya inferiority complex dan kemudiannya digantikan dengan hal lain yang kita namakan superiority complex.

Budak-budak sekolah - merasa sangat bangga boleh menghisap rokok Dunhill sambil dikejar guru sekolah. Kita berasa sangat hebat dengan cara itu. Itu juga gejala perasaan rendah diri yang cuba digantikan dengan hal yang tidak munasabah. Lainlah kalau menjadi seperti pelayar Australia berusia 15 tahun yang mengelilingi dunia. Itu baru hal yang betul.

Merasa kuat dengan cara yang tidak senonoh itulah dikatakan superiority complex. Lionel Messi yang dilihat sebagai pemain bolasepak yang hebat bukanlah superiority complex. Ia hal yang nyata. Superiority complex ialah hal yang tidak nyata. Misalnya, apabila kita bertemu dengan seseorang - yang menceritakan hal kehebatannya - yang pelik - yang aneh, itu ialah manusia yang superiority complex.

Pernah jumpa orang ini? Ayah Pin atau Rasul Melayu mungkin termasuk dalam kategori ini. Mereka merasa mereka orang yang hebat. Boleh menyembuh segala penyakit. Mengaku mencipta agama lain. Mengaku sebagai nabi. Ini adalah simptom yang kita pernah lihat. Firaun mungkin manusia unggul dalam hal penyakit superiority complex ini. Dia mengaku Tuhan.

Pengikutnya pula - mungkin merasa rendah diri. Mereka orang yang mempunyai inferiority complex. Mereka juga ingin dilihat hebat. Jadi mereka berusaha menggantikan perasaan rendah diri itu. Jadi, mereka mula terpedaya dengan tokoh superiority complex ini.

1 comment:

AnthraX said...

salam tuan,

saya ada pertanyaan, perkataan inferiority complex ni perkataan pinjam ke? selamat tak guna untuk karangan bm? tolong balas secepat mungkin

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails