Yang Ikut

Friday, 12 November 2010

Indahnya hidup tanpa derita

Reactions: 
Tajuk ini aku curi dari kulit buku yang sedang dibaca oleh kawan aku, Mala.
(Nota - tulisan ini tidak ada kena mengena dengan buku itu)

Tidaklah pula aku pasti hidup ini akan indah kalau tak ada derita. Adakalanya derita itu lebih indah dari yang kita bayangkan. Bayangkan begini - tatkala kita lulus peperiksaan dengan cemerlang - kita akan ketawa riang untuk beberapa hari. Air mata juga tumpah. Selepas itu kita tidak kisah lagi. Hilang begitu sahaja.

Sebaliknya - kalau kita gagal - sampai ke tua kita mengingatinya. Sampai ke mati ia menjadi pengajaran bermakna dalam hidup kita. Sebab itu - bagi aku - adakalanya derita itu lebih indah.

Orang yang ada kekasih - berpasangan - tidak pun tahu kewujudan kekasihnya. Setelah hilang dan tiada lagi - itulah kekasih yang terus diingati.

Banyak orang ketika hidupnya - hidup senang lenang. Mereka mungkin orang kaya yang ada banyak wang. Mereka tidak tahu pun nilai wang. Mereka boleh membeli apa sahaja.

Orang susah seperti kita (seperti aku) - adakalanya ada beberapa ratus dalam poket sudah cukup banyak. Sampaikan apabila berjalan - beberapa kali memegang poket. Takut wang yang kita ada itu terjatuh atau hilang. Itulah kebahagiaan yang mungkin tidak dimiliki orang yang ada banyak wang.

Hidup dalam derita juga - adakalanya membuatkan kita banyak berdoa. Kita tidak tahu lagi apa yang boleh kita usahakan selain banyak berdoa.

Mungkin sebab itu - apabila melihat gambar seorang anak yatim mencium adiknya yang berjaya dalam peperiksaan - aku terasa itu saat yang paling membahagiakan.Tertumpah air mata aku melihatnya. Mungkin itulah juga kegembiraan emak dan abang aku puluhan tahu dulu bila mendapat tahu aku mendapat 4A 1C dalam Penilaian Darjah 5. Sedangkan, apalah sangat dengan pencapaian seperti itu. Tetapi ia menjadi sesuatu yang bermakna kalau kita ini sangat sukar memilikinya.

Bagi orang yang hidupnya senang - anak jutawan atau orang ternama - sekalipun mereka mendapat 30A - aku tidak merasa apa-apa dengan kejayaan mereka.

Benar - indahnya hidup tanpa derita. Tetapi - hakikatnya - hambarnya hidup tanpa derita! Mungkin itu tajuk buku motivasi aku untuk mereka yang selalu gagal.

3 comments:

ismadiyusuf said...

nilai sebuah derita...

fitri zuberi said...

tidak sabar menantikan kemunculan novel itu :-D

Ibnu Mutalib said...

tak baca novel,alamak!!

betul, nikmat itu bernilai bila pernah ditiadakan atau belum pernah ada

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails