Yang Ikut

Friday, 18 November 2011

Cerita mandi sungai

Reactions: 
Kali ini kita bercerita hal biasa sahaja. Hal anak kampung zaman 80-an.

Sekarang saya tinggal di Putrajaya. Setiap hujung minggu, anak saya minta saya bawakan dia ke satu kolam renang awam. Kadang-kadang saya sempat, kadang-kadang tidak.

Sebenarnya kehidupan anak-anak kecil dengan air tidak dapat dipisahkan.

Di masa dulu, di tahun 80-an, saya juga bermain air. Tetapi, waktu itu saya tidak tahu pun ada istilah kolam renang. Kami hanya mandi air sungai sahaja. Ada beberapa 'port' baik untuk kami mandi sungai. Rumah saya hanya 500 meter dari sungai, tetapi ia bukan 'port' yang baik. Sebab setiap kali kami mandi sungai, suara jerit dan hiruk pikuk akan menyebabkan keluarga kami tahu kami sedang bermain air sungai. Kami akan dipanggil pulang.

Kakak saya sangat ditakuti. Bukan hanya oleh saya, oleh kawan-kawan saya juga. Kalau dia menjerit dari rumah pun, semua kami akan cabut lari.

Jadi kami selalunya memilih sungai yang agak jauh dari rumah. Kami bermain 'aci sembungi' di celah pohon rumbia dan perdu rumput. Kadang-kadang kami bermain perang dengan membalingkan selut batas sungai.

Cara kami bermain juga agak ganas. Kadang-kadang kami memanjat pohon tinggi di tepi sungai, dan terjun ke dalam sungai. Kadang-kadang kami lawan menyelam siapa paling lama.

Jangan melawan kami berenang. Masa itu stamina masih kuat. Kami boleh berendam di dalam air tiga hingga empat jam. Kadang-kadang waktu maghrib baru balik.

Apabila tiba musim hujan, air sungai selalu melimpah. Inilah musim paling bahaya. Air mengalir deras. Tetapi kami sukakannya.

Sebab itu keluarga kami tidak suka kami mandi air sungai. Isunya ialah bahaya.

Tetapi, sekarang ini, anak-anak kampung tidak tahu lagi mandi air sungai. Untuk berenang pun, kita perlu mencari jurulatih dan membayar pula. Di kampung mana ada kolam renang. Jadi banyak yang tidak tahu berenang. Mereka lebih banyak melepak di kedai sehingga larut malam.

Bagi saya, tidak tahu berenang lebih membahayakan.

Oh ya. Kami juga tidak ada pakaian mandi seperti sekarang. Kami hanya telanjang bulat. Kami tidak peduli sesama kami.

Cuma, ada ketika-ketikanya kalau ada anak dara lalu di batas sungai, kami terus berendam dan tidak mahu naik lagi.

Semua ini hanya nolstalgia. Sekarang ini, kalau pun saya diajak mandi kolam atau berenang di laut, saya tidak mahu. Saya rasa rimas kalau saya basah.

No comments:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails